Pohon sebagai Rumah Singgah Satwa Burung

21 05 2009

Oleh : Moh. Jauhar al-Hakimi

Pada bulan-bulan tertentu, dahan-dahan jajaran pohon asam jawa (“Tamarindus indica“) di sepanjang Jalan Setiabudi di daerah Srondol, Semarang, dihiasi burung-burung bangau warna putih (“Egretta sp”) yang bertengger pada sarangnya. Pada saat itu sebenarnya sekawanan bangau sedang melakukan migrasi untuk menuju daerah perburuan makanan dan menjadikan pohon asam di jalan tersebut sebagai tempat singgah sementara (transit) sebelum melanjutkan ke daerah perburuan makanan.

Selengkapnya…





Pagar setinggi 1 meter

21 05 2009

Oleh : Puji Qomariyah

Pertama kali tinggal di Yogyakarta tahun 1993, ada satu hal cukup menarik perhatian saya. Pagar tembok setinggi satu meter yang mengelilingi rumah dan saling menyambung dengan rumah sebelah menyebelah tanpa ada pintu gerbang yang berada di sekitar Jalan Jacaranda (Sekip), di Perum. Banteng (sekitar pondok mahasiswa Budi Mulia), di daerah Sariharjo-Ngaglik (pemukiman di sekitar LSM Dian Desa). Atau di dukuh Mejing (Ambarketawang) saat ini masih banyak terdapat beberapa rumah dalam satu lingkup tembok. Tembok dibangun dalam bentuk yang seragam, dicat dengan kapur warna putih. Biasanya tembok tersebut berbatasan langsung dengan jalan kampung selebar 3-4 meteran. Pemandangan tersebut ternyata merupakan hal yang biasa di kampung-kampung di Yogyakarta.

Selengkapnya…





Sedekah Bumi, Ruang Publik untuk Berbagi

3 04 2009

Oleh : Moh. Jauhar al-Hakimi

Tidak ada catatan pasti kapan dimulai budaya sedekah bumi ataupun sedekah laut. Dalam struktur masyarakat agraris-maritim, di masa lalu budaya tersebut menjadi ritual penting bagi masyarakat sebagai bentuk kepasrahan dalam bekerja agar mendapatkan berkah dan keselamatan dari penguasa bumi-lautan pada masa-masa berikutnya. Sebagai ungkapan terima kasih, mereka melakukan sedekah bagi bumi: ibu yang telah memberikan kehidupan dan menghidupinya.

Selengkapnya…





Pit Onthel, silakan parkir

1 02 2009

Bagi masyarakat di Yogyakarta, sepeda (“pit onthel”) hingga medio tahun 1980-an adalah moda transportasi yang dapat diandalkan selain andhong. Mudah, murah, praktis, hemat BBM, bebas polusi. Yang pasti, pit onthel mampu menjangkau berbagai pelosok termasuk gang-gang sempit. Hingga akhir tahun 1980-an, Yogyakarta masih menyandang predikat kota sepeda karena mobilitas sebagian masyarakatnya masih mengandalkan sepeda terlebih masyarakat pedesaan yang beraktivitas ke kota Yogyakarta.

Selengkapnya…





1.5 – 2 kilometer/tahun

30 01 2009

Di Yogyakarta terdapat daerah aliran sungai (DAS) Progo dan Opak yang menjadi muara semisal sungai Code, Winongo, Gajahwong, Bedog, dan Oyo yang melewati Yogyakarta. Untuk dapat berfungsi secara optimal dalam menyediakan air bersih, menjadi daerah resapan air, mengurangi erosi tanah, atau menjaga stabilitas iklim mikro, suatu DAS harus memiliki daerah resapan air berupa penutupan dengan vegetasi/pohon minimal seluas 30% dari luas total DAS tersebut. Dengan luas minimal itu DAS masih mampu menjalankan fungsi tata air baik yang diserap dan disimpan ke dalam tanah maupun yang menjadi air permukaan.

Selengkapnya…





Hak Masyarakat (yang terabaikan) di Kassa

27 01 2009

Oleh : Puji Qomariyah *)

Anda mungkin pernah mengalami hal berikut, berbelanja dengan pengembalian uang receh pecahan ratusan atau ribuan ditambah dengan permen. Pemberian permen bukanlah tambahan pengembalian, namun pengganti pecahan puluhan yang tidak dimiliki pedagang/penjual atau pengelola pusat perbelanjaan.

Selengkapnya…





Sleko, nol kilometer kota Semarang

24 01 2009

Oleh : Moh. Jauhar al-Hakimi *)

Pada masanya, urat nadi perdagangan melalui pelabuhan di kota Semarang berdampingan dengan situs Kota Lama. Pelayaran kapal-kapal barang bisa memasuki kota melalui Kali Berok. Selengkapnya…>





Dendrophilly, upaya menghijaukan Yogyakarta

24 01 2009

Oleh : Moh. Jauhar al-Hakimi *)

Penomoran pohon di Jl. KH Ahmad Dahlan Yogyakarta (doc. humanisma)

Penomoran pohon di Jl. KH Ahmad Dahlan Yogyakarta (doc. humanisma)

Berjalanlah di jalan K.H. Ahmad Dahlan dan cermati jajaran pohon angsana (Pterocarpus indicus) yang tumbuh di sepanjang jalan itu. Yang menarik adalah adanya penomoran pohon pada setiap tanaman. Meskipun terkesan sederhana, ide penomoran pohon menjadi penting ketika secara konkret dilakukan di tengah-tengah kota.

Selengkapnya…





Mereka “Belajar” di Jalanan

20 01 2009

Oleh : Puji Qomariyah,  Sosiolog Univ. Widya Mataram Yogyakarta

(doc. humanisma)

(doc. humanisma)

Suatu siang di perempatan jalan lingkar di daerah Demak Ijo. Tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki dalam rentang usia 7-12 tahunan sedang bercanda menunggu lampu “Bangjo” menyala merah. Saat lampu merah menyala, satu persatu mereka turun ke jalan mendekati pengendara. Sebagian menyanyi dengan alat musik seadanya, sebagian lagi menggumamkan lagu samar-samar terdengar suaranya yang parau.

Lebih lanjut…