Cita Merdeka #1 : Saat Diaspora Bicara tentang Cita-cita Kemerdekaan

BERLIN, HUMANISMA – Aku membuat tattoo dengan gambar ayam. Idenya dari gambar yang ada di mangkuk, re-impersonifikasi menjadi ayam jago yang terkurung dalam mangkok merespons aktivitas trans dan queer di Indonesia yang berjuang menuntut ekualitas. Tattoo itu untuk temanku seorang koki atau chef di Berlin dengan spesialisasi masakan Indonesia.

Sebuah pesan lewat aplikasi Whatsapp masuk dari Dhomas Kampretz Yudhistira, seniman tattoo asal Yogyakarta yang saat ini menetap di Berlin, Jerman, Rabu (19/8) pagi.

Bersama diaspora serta elemen masyarakat lain di Berlin, Minggu (16/8) siang waktu setempat, Kampretz turut menyemarakkan acara menyambut Hari Kemerdekaan RI dalam sebuah acara Cita Merdeka #1 di Tempelhofer field, taman seluas 355 hektar di tengah kota Berlin yang merupakan bekas lapangan terbang di masa Hitler.

“Acaranya beragam. Layaknya 17-an (Agustus) di Indonesia. Ada perlombaan makan krupuk, lari pensil, tukar balon, dengan selingan acara lainnya. Ada lapak untuk makanan Indonesia yang menyediakan nasi, rendang, gudeg,  bubur manado dibuat oleh Ardi salah satu pengisi acara. Lapak potong rambut dan lapat pijat juga ada.” jelas Kampretz.

Dalam acara tersebut Kampretz menawarkan tattoo secara akustik tanpa menggunakan peralatan listrik.

Cita Merdeka #1 diinisiasi oleh Bilawa Repati (Soydivision) bersama diaspora Indonesia yang berada di Berlin dan sekitarnya.

Dalam pengantarnya Bilawa menjelaskan saat kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia, kita memikirkan kebebasan dari penjajahan atau kekuatan asing. Sudah lazim dalam perayaan ini kita juga diingatkan tentang cita-cita kemerdekaan yang belum terpenuhi (cita-cita kemerdekaan). Tapi apa cita-cita kemerdekaan yang begitu sering diucapkan namun kabur dan menjadi klise pada saat yang sama? Kata cita yang bisa diterjemahkan sebagai pikiran; kata kemerdekaan berakar pada merdeka – kebebasan.

Cita Merdeka #1 dihelat dalam suasana santai, kekeluargaan, dengan tetap mengangkat isu-tema untuk diperbincangkan dalam format diskusi interaktif, presentasi karya, hingga diskusi-permutaran film.

Dalam format  fish bowls discussion, Billawa bersama Jelena dan Jordan mengangkat tema “Bule Londo Ndeso” memperbincangkan tentang bule menjadi ndeso di Jawa. Dalam realitasnya, memanggil seseorang dengan label kelompok etnis yang (mungkin) termasuk mungkin dilakukan dengan bercanda dan sepertinya tidak berbahaya di Indonesia. Dalam perform yang lain Billawa bersama Ariel mempresentasikan “OKNUM : Garuda Pancasila” dalam sebuah repertoar musik minimalis.

Dengan dipandu Ragil Huda, aktivis dan kurator budaya Amerika / Indonesia Ardi Kuhn memilih serangkaian gambar media yang menjadi inti dari formasi imajiner politik queer Indonesia dalam “Different Longings”.

Peneliti sosial Gugi Gumilag memantik diskusi partisipatif dalam tajuk “Deconstructing Stigma: “Dasar Kamu Komunis!”//“You Communist”, dilanjutkan dengan pemutaran-tanya jawab film berjudul “Sleep Tight, Maria” karya Monica Vanesa Tedja, dan pameran digital Queer Indonesia Archive (QIA) dengan karya “Series of Indonesian Gay and Trans Magazine Covers from the 80s, 90s and 00s” berupa sampul majalah yang diciptakan oleh GAYa Nusantara, Ikatan Persaudaraan Orang-orang Sehati (IPOOS) GAYa Betawi, GAYa Celebes dan Persaudaraan “G” Yogyakarta.

Setelah tahun-tahun sebelumnya dilakukan acara gathering saat 17 Agustus-an oleh diaspora Indonesia di Berlin, kedepan rencananya Cita Merdeka akan diadakan sebagai acara tahunan.

Rajah Tribal Nusantara

Di Yogyakarta sejak tahun 2014 seniman tattoo yang tergabung dalam Gerombolan Tukang Tato Yogyakarta selalu menggelar acara Tattoo Merdeka untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI dengan dimulai upacara bendera dilanjutkan berbagai acara lainnya selama satu hari diantaranya perang tattoo yang merupakan kompetisi di antara seniman tattoo dari berbagai daerah di Indonesia, tattoo charity, lapak karya-merchandise, maupun panggung pertunjukan.

Di Berlin, tattoo dari Indonesia cukup memiliki tempat tersendiri dengan rajah nusantara yang diperkenalkan oleh seniman tattoo Durga Sipatiti. Dengan data hasil riset yang dilakukan Durga –yang memiliki studio traditionelle Tatowierunge– memperkenalkan ragam tattoo Mentawai dengan teknik manual hand tapping dari hasil risetnya “Mentawai Tattoo Revival”, sebuah proyek non-komersil independen yang bertujuan membantu membangkitkan kembali tradisi dan budaya masyarakat suku adat Mentawai dari kepunahan dengan melanjutkan kembali tradisi pembuatan tattoo motif Mentawai sekaligus membantu memberikan workshop tattoo secara langsung di pedalaman Mentawai. Sipatiti/Sipaniti yang digunakan di belakang nama Durga merujuk pada profesi penato/tattooist/tattoo artist di Mentawai.

Suku Mentawai memiliki tradisi mentato tubuhnya sendiri dengan motif-motif khusus yang disebut dengan istilah “Titi”. Diyakini tattoo Suku Mentawai adalah seni rajah tubuh tertua di dunia dan lebih tua dari tattoo Mesir.

Bagi masyarakat Dayak, merajah tubuh merupakan ritual tradisional yang erat kaitannya dengan peribadatan, keseniaan, pengayauan, serta sebagai penanda status sosial sekaligus identitas kelompok.

Sementara Suku Moi yang mendiami daerah di Kabupaten Sorong, Papua Barat menggunakan motif tattoo dalam bentuk geometris dan garis-garis melingkar dengan titik-titik segitiga kerucut atau tridiagonal. Suku Moi menggunakan bagian tubuh dada, pipi, kelopak mata, pinggul, serta punggung sebagai obyek tattoo.

Di Indonesia, (bagi sebagian masyarakat) tattoo masih dianggap tabu meskipun sebenarnya Indonesia memiliki budaya seni rajah tubuh sejak lama. Perkembangan tattoo saat ini di kalangan kaum muda lebih pada fashion. Banyak generasi muda Borneo meninggalkan tattoo tribalnya dan beralih pada desain kontemporer. Tentu ini masalah selera saja. Hanya banyak juga dari mereka kaget ketika tahu banyak orang luar negeri justru menggunakan tattoo tribal Borneo ataupun Mentawai di tubuhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: