“Superficial Readers”, Paradoks-paradoks Pandemi Literasi

Karya “I Cursed You into The Stone #1” dalam pameran tunggal Dedy Sufriadi bertajuk “Superficial Readers” di Jogja Galeri. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, HUMANISMA – Memasuki ruang pamer Jogja Galery diantara gemericik hujan buatan yang memenuhi seluruh ruangan utama, aroma menyengat langsung menyergap pengunjung hingga menembus masker kain. Aroma tersebut bersumber dari tumpukan buku dalam delapan kolam masing-masing berukuran 4×4 m2 yang terus menerus diguyur hujan buatan. Air yang dibuat bersirkulasi tetap pada masing-masing kolam perlahan-lahan melembekkan kertas-kertas buku yang pada akhirnya menjadikan tumpukan buku tersebut hancur bahkan bisa jadi akan menjadi bubur kertas.

Aroma menyengat tersebut salah satunya bersumber dari kandungan bahan kimia penyusun kertas: soda, sulfit, sulfat, klorin, kaporit, H202, ozone, ataupun Ethylene diamine tetraacetic acid (EDTA), tergantung proses awal pembuatan pulp-nya.

Sebanyak 15.000-an buku seberat 5 ton yang diguyur hujan buatan selama hampir satu bulan di ruang pamer Jogja Gallery menjadi presentasi tunggal terbaru karya seniman-perupa Dedy Sufriadi mengangkat tajuk “Superficial Readers”. Pameran berlangsung 15 Desember 2020 – 15 Januari 2021.

Kolam-kolam display karya Dedi Sufriadi

Dua buah Android TV yang dicor semen didisplay di ruang pamer, sebuah karya susunan buku dicor semen yang ditempatkan di luar ruangan JG dibiarkan tanpa pelindung dari hujan dan panas matahari. Ketiga karya series “I Cursed You into The Stone” dan satu karya berjudul “Capitalism Hair Plastic Beauty Images” yang didisplay di dinding lobby JG melengkapi keseluruhan karya presentasi “Superficial Readers

Tahun lalu di tempat yang sama dalam sebuah pameran kelompok Dedy mempresentasikan karya dalam medium yang hampir sama: 16.000-an buku, LCD TV, semen, pasir, dan rangka scaffolding. Sepintas terlihat ada pengulangan. Namun guyuran air hujan sepanjang pameran berlangsung mengubah banyak hal dari karya Dedy terdahulu. Jika sebelumnya membekukan menjadi obyek baru, karya Dedy terbaru justru sebaliknya mendekonstruksi medium utama menjadi bahan asalnya. Jika tidak mau menyebutnya sebagai sebuah penghancuran.

Proses hancurnya buku akibat air hujan dalam “Superficial Readers”

Menarik ketika dekonstruksi medium tersebut adalah buku –simbol sumber literasi dan pengetahuan-. Telaah paling sederhana adalah tanpa pembacanya, buku hanyalah onggokan benda berharga murah. Sebuah kritik yang cukup menukik pada realitas hari ini: perkembangan teknologi berikut turunannya telah mengubah cara baca dan cara pandang masyarakat menempatkan buku-buku yang sudah banyak ditinggalkan pembacanya menjadi onggokan sampah.

Data UNESCO (2019) menyebutkan, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.

Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando dalam sebuah webinar Literasi Dalam Membangun Ekonomi Masyarakat, Selasa (20/10) mengakui bahwa opini rendahnya tingkat literasi indonesia itu murni disebabkan oleh faktor rasio antara ketersediaan bacaan dengan jumlah penduduk yang berbeda sangat jauh. Syarif menerangkan jika setiap tahun perpustakaan hanya menyediakan 50 juta buku bacaan terbaru, secara de-facto ada kekurangan 217 juta buku (1 buku baru/orang) per tahun. Sementara UNESCO menetapkan standar minimal 3 buku baru setiap orang per tahun. Saat ini terdapat 1.350 perpustakaan digital yang memungkinkan untuk diakses masyarakat Indonesia.

Diakui Syarif dengan penguatan literasi, masyarakat Indonesia mampu memiliki kedalaman pengetahuan yang diperoleh dari kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bahan bacaan, memahami yang tersirat dan tersurat, mengemukakan gagasan dan kreativiatas serta inovasi baru, dan menciptkaan barang dan jasa yang bermutu demi mencapai target tahun emas Indonesia yang dimulai dari adanya peningkatan ekonomi.

Dalam pemilihan medium maupun penyajian karya, Dedy terlihat tidak sedang bermain-main dengan isu-isu seputar literasi yang hari ini berada dalam wilayah yang cukup seksi. Pun tidak sedang bergenit-genit dengan wacana semata. Realitasnya, perubahan cara baca yang sudah tersedia dalam genggaman pada sebuah gawai pintar perlahan-lahan turut juga mengubah cara pandang masyarakat yang cenderung instan dalam mengkonsumsi informasi-berita yang begitu banyak bertebaran di dunia maya dan berganti dalam hitungan detik tanpa diimbangi dengan memfilter dan menelisik sumber berita yang bisa dipertanggungjawabkan, pragmatis, menghindari hal-hal yang berat dan memerlukan jeda waktu untuk berpikir, dan berujung memberhalakan gawai pintar sebagai pemberi separoh lebih hidupnya.

I Cursed You into The Stone/Kukutuk Kau menjadi batu #3 – buku, semen, pasir, besi, panel lampu LED – Dedy Sufriadi – 2020.

Pada satu sisi dunia yang terhubung dengan gawai pintar telah mendekatkan jarak yang terentang dari berbagai belahan dunia, namun pada saat bersamaan kerap pula menghilangkan ruang sosial-relasi antarmanusia dengan lingkungan terdekatnya.

Fenomena bertebarannya berita bohong (hoax), berita-berita bombastis, pertengkaran dalam hal-hal remeh di media sosial telah menempatkan dunia yang berjejaring dalam 24 jam sebagai medan baru pendangkalan bahkan tidak jarang pembodohan relasi antarmanusia sehingga Dedy memerlukan untuk “mengutuknya” dalam karya series “I Cursed You into The Stone“.

Berhenti hanya dengan membaca judul berita tanpa menelaah lebih lanjut tentang isi berita, narasumber, tanggal kejadian, hingga sumber berita yang bisa dipertanggungjawabkan sudah jarang dilakukan ketika berita-berita bertebaran dan silih berganti dalam rentang waktu yang sangat singkat. Keengganan menelaah-menelisik berita lebih dalam telah menjebak masyarakat dalam era post-truth dimana dengan mudahnya mengambil kesimpulan cepat dan instan dari judul berita yang dibacanya, telah menjadi keseharian masyarakat hari ini. Bisa ditebak, masyarakat hanya beranjak dari satu keriuhan ke keriuhan berikutnya dalam kontestasi penyebaran berita bohong (hoax), dengan tanpa disadari turut mengkonsumsinya.

Cara pandang yang tidak diimbangi dengan budaya literasi pada akhirnya hanya menempatkan buku cetak maupun buku elektronik (e-book) sebagai salah satu sumber pengetahuan menjadi artefak-artefak maupun jejak digital yang bisa jadi hanya merupakan kumpulan-kumpulan ‘sampah’.

Ketika cara pandang dan cara baca masyarakat telah banyak berubah, buku dan gawai pintar sama saja: hanya kumpulan onggokan benda mati yang tidak banyak berbicara. Pilhan pembacaam Dedy adalah: dikutuk membeku atau dihancurkan sekalian.

I Cursed You into The Stone/Kukutuk Kau menjadi batu #2 – buku, semen, pasir, besi, android TV – Dedy Sufriadi – 2020.

Sosiolog Universitas Widya Mataram Yogyakarta Puji Qomariyah melihat adanya  kecenderungan generasi sekarang untuk melakukan sesuatu dengan fast, instan, dan artifisial  dalam berbagai aspek kehidupan. Makan cepat salah satunya ditandai dengan mengkonsumsi fast food ataupun memesannya tanpa harus beranjak dari tempat duduk, keinginan sukses cepat, instan tanpa proses, sehingga menghasilkan sesuatu yang artifisial, tampak indah sesaat dan di permukaan, namun keropos di dalam.

“Semua kondisi tersebut saling terkait dan berpengaruh pada budaya literasi, hingga lahirlah generasi instan serba ingin cepat dengan melupakan proses, generasi pragmatis, opportunis, dan itu semua “didukung” sistem pendidikan nasional yang mengukur keberhasilan akademik dengan melihat angka secara kuantitatif (nilai), kelulusan diukur dari seberapa besar nilai angka yang diperoleh, masuk jenjang pendidikan berikutnya dengan berbasis angka. Mereka harus bersaing dengan teman-teman sekolah, bahkan tidak jarang dengan berbekal semangat “mengalahkan” teman sebangku hanya untuk memperoleh ranking. Keluarga juga turut andil. Hari ini teknologi yang seharusnya bisa memudahkan, justru kerap menjauhkan manusia dengan lingkungan sekitarnya.” jelas Puji, Senin (21/12) siang.

Capitalism Hair Plastic Beauty Images – mixed medium – various dimention – Dedy Sufriadi – 2020.

Seturut dengan kutukan tersebut, karya Capitalism Hair Plastic Beauty Images dalam dimensi yang cukup besar seolah menjadi rangkaian kritik Dedy atas pembangunan citra untuk tampil secara baik-menarik di hadapan khalayak. Tampil baik secara fisik-visual (good looking) hari-hari ini sudah dikapitalkan dalam relasi antarmanusia. Ini menjadi potret lain bagaimana media sosial Facebook, Tik-tok, Instagram, maupun platform media sosial lainnya belum secara optimal digunakan menyampaikan pesan-pesan atau memproduksi-reproduksi pengetahuan. Salahkah? Tidak. Platform teknologi berbasis virtual, digital, dan terhubung memiliki sifat yang khas sebagaimana karakter industri lainnya: tampilan menarik, distribusi-sirkulasi yang cepat berganti. dan banyak dilihat publik sebanding dengan pemasukan secara finansial. Di titik inilah kelindan industri dalam mengeruk keuntungan adalah sebuah keniscayaan. Sebuah pembacaan yang menarik.

Isu Lingkungan dalam Superficial Readers

Untuk menghasilkan 15.000-an buku seberat 5 ton diperlukan pulp seberat 6 ton, dimana 1 ton pulp dibuat dari 4,6 m3 kayu dari hutan tanaman industri (HTI) yang dibuat menjadi chip (potongan-potongan kecil) untuk kemudian dihancurkan menjadi bubur dan selanjutnya dipisahkan unsur pembentuk kayu: selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Kayu tersebut bisa berasal dari jenis kayu lunak (cemara, pinus) ataupun jenis kayu keras (akasia, kayu putih, aspen) yang memiliki sifat fast growing.

Dengan produktivitas lahan HTI dalam menghasilkan katu industri mencapai 160 m3/hektar, 15.000-an buku tersebut memerlukan kayu dari areal HTI seluas 0,17 ha atau 1.700 m2.

Produksi sampah Indonesia mencapai 175.000 ton/hari dimana 9% merupakan sampah kertas, artinya dalam satu hari Indonesia menghasilkan seberat 15.768 ton sampah kertas yang setara dengan 18.922 ton pulp. Jumlah tersebut dihasilkan dari penebangan kayu industri seluas 544 ha/hari.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat timbulan sampah kertas di Indonesia saat ini mencapai 1% dari timbulan sampah total sebesar 64 juta ton per tahun. Artinya, sebesar 6,4 juta ton timbulan sampah kertas dihasilkan setiap tahunnya. Jika dipilah dan kelola dengan baik, kebutuhan kertas bekas bisa dipenuhi dari sampah kertas di dalam negeri. Sayangnya, pasokan kebutuhan industri itu masih didominasi impor.

Timbulan sampah kertas sebahai bahan baku industri daur ulang saat ini belum terkelola dengan maksimal sehingga hanya 70% saja yang dapat dimanfaatkan kembali atau didaur ulang. Padahal jumlah timbulan sampah kertas bisa mencapai sekitar 10% dari jumlah keseluruhan sampah. Oleh karena itu diperlukan strategi yang baik agar sampah kertas dapat dikelola secara maksimal.

Daur ulang sampah kertas tidak sekedar isu seksi untuk diperbincangkan. Jika Anda mengakses laman https://fwi.or.id/, sebuah kalimat dalam running text menyampaikan pesan “Anda sudah membuka website kami selama HH Jam MM Menit SS Detik, di waktu yang sama, sudah ada xx,x ha hutan alam yang hilang.

Pada running text tersebut dalam rentang waktu 1 menit 06 detik seluas 3,0 hektar hutan alam di Indonesia mengalami deforestasi bahkan hilang. Dengan mendaurulang timbulan sampah kertas seberat 6,4 juta ton artinya sama dengan menyelamatkan hutan tanaman industri seluas 198.558,54 hektar dari penebangan. Setidaknya daur ulang tersebut bisa mengurangi kehilangan areal hutan alam Indonesia akibat deforestasi yang mencapai 1.433.454,545 ha/tahun.

Meskipun di alam bisa terdaurulang, tetap saja kertas tersusun dari bahan-bahan yang bisa mencemari lingkungan. Sergapan aroma menyengat di ruang pamer Jogja Galery salah satu yang bisa dirasakan pengunjung. Setidaknya dalam delapan kolam berukuran masing-masing 4×4 m2 Dedy menyajikan realitas lain: pencemaran udara, tanah, dan air dari bahan-bahan penyusun kertas tersebut.

Sebelas buku tipis yang masih baru berisi tentang tips-tips ditumpuk begitu saja di pojok sebuah kolam presentasi karya di Jogja Galery dalam kondisi sudah mulai lembab basah terkena cipratan dari air yang mengguyur tumpukan buku-buku yang sudah mulai hancur di tengah-tengah kolam. “Ambil saja bro, silakan dilemparkan ke tengah tumpukan kalau mau menambahkannya. Itu memang disediakan bagi pengunjung (untuk turut) berpartisipasi.” kata Dedy, Sabtu (19/12) sore.

Sebelas buku itu berjudul “Membuat Perpustakaan Mini”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: